Aku ingat, dan mungkin semua orang pasti meng'iya'kan, pada saat kita mencintai seseorang, pada saat kita jatuh hati setengah mati, pasti ngomongnya, "aku mencintai dia apa adanya, I love him/her the way he/she is, I love u just the way you are.......aku mencintai dia dengan segala kebaikan & keburukannya......." yeah..yeahh..something like that........but after we married, is it really like that?
Nah, itu sekarang menjadi pertanyaan aku.......is it really like that? or we just too naif thinking like that? atau hanya aku yang terlalu merefleksikan dengan kehidupan aku.......
Aku selalu bertanya, apa iya sih kalau kita mencintai seseorang & kita menikahinya, kita hanya menerima dia apa adanya dia, menerima segala kebaikan & keburukan yang ada pada dia......
Apa iya sih, kita tidak bisa berubah atau merubah pasangan kita? Apa iya sih...kita hanya menerima pasangan kita apa adanya......bukankah itu terlalu naif untuk kita utarakan.......atau mungkin aku pengen bilang terlalu bodoh rasanya kalau memang seperti itu.......
Bukankah kita manusia, yang punya ekspektasi bagi diri kita & pasangan kita, isn't it true?
Aku mempertanyakan semua itu, karena aku juga sedang mempertanyakan benarkah aku tidak bisa merubah suamiku sesuai dengan yang aku inginkan, sementara aku harus bisa bersikap sesuai yang diinginkan suami??? Benarkah aku menerima suamiku apa adanya???
Ternyata nggak tuh.......aku punya ekspektasi besar suami bisa bersikap sesuai yang aku inginkan, tapi aku susah mentransfer keinginanku itu dan aku bingung, mengertikah suamiku dengan apa yang aku inginkan??
Urusan kasih sayang, perhatian, dan nafkah hidup tidak perlu aku khawatirkan dari suamiku, aku mendapat berlimpah dari dia.......tapi suamiku tidak punya karakter yang kuat, tidak punya sikap tegas, terkesan selalu ragu, dan melimpahkan seluruh tanggung jawab dalam mengambil keputusan ke aku.........kalau aku bisa umpamakan dia seperti keong, begitu kita sentuh batok rumahnya itu, dia pasti masuk & meringkuk ke dalam rumahnya........
Apa aku kejam ya mengumpamakan suamiku seperti keong??
Kalau urusan mengambil keputusan, urusan tegas2an, sikap yang tough, hidup mandiri, aku nggak usah dikhawatirkan. Mulai dari aku kecil aku sudah dihadapkan dengan urusan seperti itu, walau aku anak tunggal tapi aku dididik ortu sekeras sikap bapakku, semandiri yang mereka mau.........
Tapi seperti kata tulang Nimrod, aku nggak selamanya bersikap dan hidup seperti itu, jangan terlalu over confidence, nanti laki2 gak ada yang mau......ok, aku sekarang sudah hidup berumah tangga, dan aku mau segala tanggung jawab dalam memutus itu dipegang suamiku.....apa artinya hidup bersuami kalau yang mengambil keputusan tetap aku?!
Tapi...keinginan tinggal keinginan, segalanya terserah aku, yang ambil keputusan aku, mana yang baik menurutku yah itu aja yang dijalankan, bertemu teman2ku dari kantor malu, kalau mau gaul susah, ngobrol aja sama teman2ku susah, begitulah kehidupan rumah tanggaku......aku capek....aku ingin suamiku yang lebih kuat dari aku, aku ingin suamiku yang lebih tough dari aku, aku ingin dia yang memimpin rumah tangga kami, bukan aku yang pegang kemudi......dan aku ingin dia gaul, tidak rendah diri dihadapan orang lain...
Aku nggak ngerti apa sih yang membuat dia sebegitu tidak 'PD' nya, apa yang membuat dia rendah diri........kalau aku pikir2 sih sebenarnya nggak ada......
Biasanya seorang suami malu kalau tidak punya kerjaan, atau kalau tidak berpenghasilan, atau penghasilannya lebih rendah dari istri, atau kalau tampangnya jelek, atau kalau gak berpendidikan............tapi suamiku.....tampang ok, penghasilan melebihi penghasilanku, walau penampilannya agak membaik sejak hidup bersamaku.....so apa gitu yang membuat dia rendah diri......nggak ada..nggak ada..........
Dalam hal mengambil keputusan juga, aku pernah dengan dalih ini itu supaya aku tidak memutus, supaya dia yang memutus, tapi...akhirnya dia memutus juga sih.....tapi yang jelas secara logis keputusannya itu salah......bukan hanya karena tidak sesuai dengan aku, tapi memang secara logis salah, tidak tepat..........akhirnya kembali akulah yang harus mengambil keputusan.........
Beside that, I really wanna be treated as a princess, atau kalau tidak segitu2nya, aku ingin diperlakukan sebagai seorang istri yang layak dilindungi, atau istri yang dicovered, yang dituntun, bukan diperlakukan sebagai seorang wanita yang tangguh yang tidak perlu dilindungi lagi karena sudah terlalu tangguh untuk dilindungi, bukan diperlakukan sebagai orang yang sudah tau banyak, bukan diperlakukan sebagai orang yang bisa melakukan apa pun.......
Bukan bermaksud membandingkan, tapi pernah waktu dulu pendidikan SDP, aku jalan sama seorang 'cowok' ke Cempaka Mas, aku nawar2 sprei, si 'cowok' ini ikut nimbrung kasih masukan model mana yang bagus, ikut ngebantu aku menawar supaya spreinya dikasih lebih murah....walaupun barang yang ditunjuknya bukan menjadi pilihanku (karena pilihan dia agak rame motifnya, aku gak suka) tapi yang jelas aku amazing sama sikap yang ditunjukkannya.......ada rasa senang saat dia terlibat dalam kesempatan itu, aku merasa terbantu dan mendapat pertimbangan lain dalam memutuskan, kalau mau terus terang saat itu gua udah mau ambil barang pilihan dia untuk menghargainya, tapi aku nggak bisa membohongi seleraku jadi aku ambil sesuai seleraku......Tapi di kesempatan yang sama hari itu, aku juga beliin suamiku sepatu, dan sepatu itu jelas pilihan si 'cowok' tadi, dan sampai sekarang masih dipakai sama suamiku.......
Pada saat pulangnya dari Cempaka Mas, si 'cowok' beli tas troli gede, sementara kami pulang naik bus, udah pasti dia agak2 ribet kan bawa barang2nya, tapi....mmmhhh barang belanjaanku pun dia yang bawain.....betapa senangnya aku...bukan karena gua males bawa tu barang, tapi aku senang atas perlakuan itu........(saat itu aku merasa...oohh aku ternyata wanita juga toh...)
Di kesempatan lain, waktu belanja ke Mangga Dua, aku mau beli tas plastik gede, waktu aku nawar di kasih harga Rp 25.000,- gak bisa kurang, si 'cowok' langsung kesel, masa nggak bisa kurang sih, aku yakin suaranya agak meninggi saat itu.......oowww I looked at him amazingly, aku melihat dia dengan perasaan bangga karena saat itu aku merasa agak terbela.....
Dan ada banyak hal2 seperti itu yang aku alami dengan dia pada waktu itu.......lupa untuk merincinya satu per satu.......tapi kalaupun dia melakukan itu bukan karena aku, yang jelas aku senang, senaaaaaaaaaaaanngg banget....
Aku yakin buat orang lain, cerita tadi hanya persoalan kecil, yang bahkan gak layak diinginkan atau dipersoalkan...but I love being treated like that, I miss being treated like that.......really miss that....karena aku tidak pernah mendapat yang seperti itu.....
Tentunya aku merindukan hal itu dari suamiku, tapi bagaimana ya mengatakan atau merinci bentuk yang bagaimana yang aku inginkan, sepertinya susah untuk mentransfer pikiranku ke suamiku.....aku nggak mau bertengkar lagi untuk hal2 yang aku ingin dia lakukan untukku.......
Tapi yang jelas aku capek menjadi wanita tangguh....I don't wanna be a superwoman anymore, aku bukan menginginkan si 'cowok' untuk menjadi suamiku, aku bukan ingin memiliki 'cowok' itu, atau aku tidak menginginkan suamiku berubah menjadi 'cowok' itu, tapi aku menginginkan suamiku mempunyai sikap seperti itu, at least I want my husband treat me as a 'wife', not as a superwoman.......
Great love to you all, especially for that 'cowok'